Sponsor

Ternak Puyuh Naik Kelas di Era MBG, Pakar UIM: Ini Peluang Emas UMK

K

Kunitik.com

14 Aug 2026, 15:33 WITA

Ternak Puyuh Naik Kelas di Era MBG, Pakar UIM: Ini Peluang Emas UMK

Makassar, Kunitik.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah bukan hanya membawa manfaat bagi gizi anak bangsa, tetapi juga membuka pasar besar bagi usaha mikro dan kecil (UMK) di sektor peternakan. Salah satu komoditas yang dinilai paling berpeluang adalah telur dan daging puyuh.

Demikian disampaikan Panjang Dr. Ir. Syamsul Rahman, S.TP.,M.Si.IPM, dosen dan peneliti dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali. Menurutnya, budidaya puyuh yang selama ini dipandang sebagai usaha sampingan, kini layak menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat, khususnya jika disinergikan dengan program MBG.

Daging puyuh dalam bentuk kemasan​

"Puyuh memiliki keunggulan komparatif dibanding unggas lain. Siklus produksinya cepat, modal awal rendah, dan tidak membutuhkan lahan luas. Ini sangat cocok untuk UMK di perkotaan maupun perdesaan," ujar Dr. Syamsul saat ditemui di kampus UIM, Jumat (14/8/2026).

Potensi Gizi dan Ekonomi

Dr. Syamsul menjelaskan, telur puyuh mengandung protein, zat besi, dan vitamin B kompleks yang setara bahkan dalam beberapa aspek lebih tinggi dibanding telur ayam. Ukurannya yang mungil justru menjadi nilai tambah karena mudah diterima anak-anak sebagai menu MBG.

"Dari sisi ekonomi, puyuh betina mulai bertelur di usia 40 hari. Bandingkan dengan ayam yang butuh 5-6 bulan. Ini artinya perputaran modal lebih cepat, risiko lebih terkendali," jelasnya.

Ia mencontohkan, salah satu binaan LPPM UIM, "DnA Barokah Farm", telah membuktikan bahwa dengan kandang bertingkat di lahan sempit, mereka mampu memproduksi ratusan butir telur per hari dan mulai menembus pasar lokal.

MBG Sebagai Pendorong Ekosistem

Program MBG yang menyasar anak sekolah dan kelompok rentan membutuhkan pasokan pangan bergizi secara rutin, terukur dan tersebar. Dr. Syamsul menilai, kebutuhan ini tidak bisa hanya dipenuhi oleh industri besar. Di sinilah peran strategis peternak kecil.

"Peternak lokal lebih dekat dengan dapur-dapur MBG di kecamatan. Mereka bisa memasok telur segar dengan biaya logistik lebih murah. Jika difasilitasi kemitraan yang baik, ini akan menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek musiman," tegasnya.

Tantangan dan Solusi

Meski optimistis, Dr. Syamsul mengingatkan sejumlah tantangan. Konsistensi kualitas, sanitasi kandang, dan keamanan pangan menjadi syarat mutlak agar produk puyuh layak masuk rantai pasok MBG. Selain itu, fluktuasi harga pakan masih menjadi momok bagi peternak kecil.

"Untuk itu, kami dari UIM mendorong pembentukan kelompok tani atau koperasi peternak. Dengan bergabung, mereka bisa melakukan pembelian pakan kolektif, berbagi ilmu, dan menegosiasikan harga lebih baik dengan mitra MBG," sarannya.

Pemerintah daerah juga diharapkan turut memfasilitasi pelatihan teknis, akses modal mikro, dan jembatan kemitraan. "Bukan sekadar memberikan bantuan, tapi membangun ekosistem yang membuat peternak bisa mandiri dan naik kelas," pungkas Dr. Syamsul.

Dengan sinergi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha, ternak puyuh yang mungil diharapkan bisa menjadi pilar penting dalam mewujudkan ketahanan pangan bergizi nasional sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan.(*)

Editor: Jamal MT 

Topik Terkait:

Post a Comment

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!

Berita Terkait

Ekonomi & Bisnis

Satpol PP Polman Sisir 3 Kecamatan, Pastikan Harga Bensin Eceran Tetap Normal

6 days ago | Kunitik.com
Ekonomi & Bisnis

Satpol PP-Disperindakop Sisir Pedagang Eceran, Harga BBM di Polman Minta Dinormalkan

1 week ago | Kunitik.com
Ekonomi & Bisnis

TEP Universitas Brawijaya Dorong Kakao Tobadak Naik Kelas Lewat Pelatihan Pascapanen

1 month ago | Kunitik.com
Ekonomi & Bisnis

Dari Lamongan, Ketua KDMP Salupangkang Bawa Pulang Strategi Kembangkan Usaha Desa

1 month ago | Kunitik.com
Ekonomi & Bisnis

Inovasi Mahasiswa KKN: Sulap Air Kelapa dan Kulit Kakao Jadi Pupuk Serta Pakan Ternak di Polewali Mandar

2 months ago | Kunitik.com
Sosial Budaya

Wow !!! Mamasa Ukir Sejarah Baru, Minum Kopi Pecahkan Rekor Dunia

2 months ago | Kunitik.com
Ekonomi & Bisnis

IG Kopi Mamasa Terbit, Kadistanakbun Ajak Masyarakat Giat Tanam Kopi

2 months ago | Kunitik.com
Ekonomi & Bisnis

Batas Waktu 5 Tahun! Kabid Pendapatan Ingatkan Wajib Pajak Soal Kedaluwarsa Penagihan

4 months ago | Kunitik.com

Tontonan Pilihan

Sponsor