|Editor : Kadir M. Tanniewa
POLEWALI MANDAR, Kunitik.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif Angkatan VII Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene bersama Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya menggelar workshop pemanfaatan limbah.
Kegiatan ini difokuskan pada pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari air kelapa dan pengolahan kulit kakao menjadi pakan ternak berkualitas.
Workshop edukatif ini menghadirkan dua pakar pertanian sebagai narasumber utama, yaitu Ashabul Kahfi, S.P. dan Syahrul Sabri, S.P. Keduanya memberikan panduan teoretis sekaligus praktik di aula Kantor Desa Mambu, Rabu (19/08/2026).
Dalam pemaparannya, Ashabul Kahfi menjelaskan, pemilihan air kelapa sebagai bahan dasar POC bukan tanpa alasan. Air kelapa diketahui kaya akan unsur kalium, asam amino, serta zat pengatur tumbuh (ZPT) yang sangat efektif untuk menunjang nutrisi dan pertumbuhan tanaman.
"Proses pembuatan POC ini tergolong mudah. Bahan dasar limbah cukup difermentasikan selama dua pekan sebelum akhirnya siap diaplikasikan para petani di lahan mereka," ujar Ashabul.

Koordinator Desa (Kordes) Posko 2, Vika Amelia, mengungkapkan antusiasme masyarakat sangat tinggi selama mengikuti jalannya praktik pembuatan pupuk alternatif tersebut.
Menurutnya, inovasi ini hadir di momentum yang tepat untuk menjawab kebutuhan riil para petani di lapangan.
"Pupuk Organik Cair yang telah kita praktikkan bersama ternyata sangat diminati para petani di sini," tutur Vika.
Tidak hanya berfokus pada pertanian, tim KKN Posko 2 juga jeli melihat potensi sektor peternakan dengan memanfaatkan melimpahnya limbah lokal.

Kulit kakao yang biasanya dibuang begitu saja, kini disulap menjadi pakan alternatif bergizi tinggi untuk hewan ternak.
Kata Vika, inovasi pakan dari limbah kulit kakao ini dirancang khusus untuk meringankan beban biaya pakan yang sering dikeluhkan peternak.
"Demikian pula dengan pakan ternak dari limbah kulit kakao, tentu ini sangat bermanfaat bagi peternak sapi dan kambing untuk menjaga ketersediaan pakan berkualitas secara berkelanjutan," imbuh mahasiswi asal Bali itu.
Melalui pelaksanaan kedua program ini, masyarakat setempat diharapkan tidak hanya mampu menekan biaya produksi pertanian dan peternakan secara signifikan.
Lebih dari itu, warga didorong untuk lebih mandiri dalam mengelola dan memaksimalkan potensi limbah lingkungan yang ada di sekitar mereka menjadi produk yang bernilai ekonomis. (***)