MATENG, KUNITIK.COM – Pengelolaan keuangan yang buruk seringkali menjadi penyebab utama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) gulung tikar.
Menyadari hal ini, Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Mamuju (UNIMAJU), Dr. Hari Yeni, S.Kom., M.M, membagikan kiat jitu kepada pelaku usaha melalui materi bertajuk "Literasi Keuangan Digital Untuk UMKM Berdaya Saing".
Materi ini disampaikan dalam Workshop Transformasi UMKM Berdaya Saing di Hotel Bahari, Mamuju Tengah (Mateng), Senin (2/11/2026).
Dalam paparannya, Dr. Hari Yeni menyoroti kebiasaan umum yang kerap dilakukan para pelaku UMKM, yaitu mencampur adukkan uang pribadi dengan uang modal usaha. Ia menegaskan bahwa ini adalah kesalahan fatal.
"Uang dapur tidak sama dengan uang usaha. Karena itu, wajib hukumnya untuk memisahkan rekening atau dompet antara kebutuhan rumah tangga dengan modal bisnis," tegasnya di hadapan puluhan peserta.
Menurutnya, uang usaha bukanlah uang milik pribadi pemilik usaha. Oleh karena itu, ia menyarankan agar para pemilik usaha menetapkan besaran gaji bagi dirinya sendiri secara jelas dan tidak sesuka hati mengambil uang dari laci kasir untuk kebutuhan pribadi.
Selain memisahkan uang, pelaku usaha juga dituntut untuk disiplin mencatat arus kas (cash flow). Dr. Hari Yeni mengingatkan agar peserta mencatat semua pengeluaran, sekecil dan sebesar apa pun itu, agar terlihat jelas ke mana uang berputar.
Untuk mempermudah pencatatan dan efisiensi transaksi, ia sangat mendorong pelaku UMKM beralih ke pembayaran non-tunai melalui QRIS. Cara memperolehnya pun dinilai cukup mudah, hanya bermodalkan e-KTP dan Nomor Induk Kependudukan (NIK) untuk mendaftar melalui bank mitra seperti BRI, BPD, atau aplikasi penyedia layanan.
"Keuntungan pakai QRIS itu transaksi langsung tercatat, kita terhindar dari uang palsu, dan yang paling penting, untuk transaksi di bawah Rp500 ribu, potongan atau biaya adminnya 0 persen atau gratis," paparnya.
Meski menawarkan banyak kemudahan, ia tetap mengingatkan peserta untuk selalu waspada. Selain berhati-hati terhadap jerat pinjaman online (pinjol) ilegal dan memahami batas aman utang, pelaku usaha disarankan memanfaatkan solusi permodalan resmi seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Di akhir sesinya, Dr. Hari Yeni memberikan tantangan praktis kepada para peserta untuk mempraktikkan ilmu yang didapat selama tujuh hari ke depan. Peserta diminta untuk mencatat setiap transaksi, mencetak QRIS usaha, dan membuat rekapitulasi harian.
"Setelah tujuh hari, silakan evaluasi laba bersih Anda. Inilah cara UMKM naik kelas dan ekonomi kita menjadi kuat," pungkasnya.
Dengan pembekalan literasi keuangan digital ini, diharapkan para pelaku UMKM di Mateng dapat lebih profesional dalam mengelola arus kas, siap bertransformasi ke ranah digital, dan pada akhirnya mampu meningkatkan daya saing usaha mereka di pasar yang lebih luas.
Penulis : Jamal MT