MATENG, Kunitik.com – Bupati Mamuju Tengah (Mateng), Dr. H. Arsal Aras, mengungkapkan kondisi darurat kekeringan yang melanda Bumi Lalla' Tassisara' saat ini. Dalam wawancara di sela peringatan HUT RI ke-81, Senin (17/8/2026), ia memaparkan betapa sulitnya upaya pemerintah menyediakan air bersih bagi warga yang terdampak fenomena El Nino.
Arsal mengakui, secara tekhnis pemerintah telah berupaya melakukan pengeboran di sejumlah titik, namun hasilnya masih jauh dari harapan.
"Di tengah kekeringan, upaya melakukan pengeboran tetapi juga masih sangat sulit kita temukan di beberapa tempat," ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan, pemerintah terpaksa melakukan transfer air dengan cara memompa dari sumber-sumber yang tersisa, seperti dari bumbung (saluran irigasi/tampungan). Namun, kondisi sumber air pun sudah sangat memprihatinkan.
"Airnya sudah bisa keluar, mungkin debitnya sudah sangat kecil, tapi kita lakukan pompa keluar sehingga bisa mengalir. Itu pun kondisi saat ini air tidak mencukupi," jelasnya.
Air Cepat Meresap, Tanah Retak
Yang lebih mengkhawatirkan, tanah di wilayah Mateng, khususnya di Kecamatan Topoyo dan Tobadak, sudah dalam kondisi sangat kering kerontang. Air yang berhasil dialirkan pun tidak bertahan lama.
"Airnya mengalir begitu cepat meresap ke lantai (tanah)," kata Arsal menggambarkan betapa kritisnya kondisi lahan pertanian saat ini.
Data terbaru mencatat sekitar 600 hektare sawah mengalami kekeringan parah dengan tanah yang retak-retak, sehingga potensi gagal panen dinilai cukup besar.
Di tengah cuaca panas ekstrem ini, Bupati kembali mengingatkan warga agar tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar demi mencegah kebakaran.
Selain upaya teknis, Arsal Aras berharap hujan segera turun menyelamatkan wilayah yang tengah dilanda darurat air ini. (jml)